Showing posts with label METAL HISTORY (INDONESIA). Show all posts
Showing posts with label METAL HISTORY (INDONESIA). Show all posts

Monday, September 29, 2014

NEWS: Injected Sufferage new video "Damned Village Forced" (Bandung death-metal legend reborn)

Bandung death-metal legends Injected Sufferage. They split up in 2001 and reunited in 2013. The band released one album N'cep Surgeon (Poems from the Land of Gore) in 2001 (ESP) with Man Jasad on vocals.
silahkan di download
http://www.youtube.com/watch?v=hyMC72E4qJg

Wednesday, July 2, 2014

METAL HISTORY: Forgotten (Bandung) band picture, 1997, "Future Syndrome" era

Forgotten (Bandung) band picture, 1997 Future Syndrome era. Left to Right: Addy Gembel (voc), Kudung (drums), Toteng (guitar), Kardun (bass) & Ferly (guitar). Terima-kasih Ferly Jasad for posting this picture and Glenn Bloodgush for identifying the date & band members.
Left to Right: Jack Frost (Busuk Webzine), Popo Demons Damn, Addy Gembel Forgotten, 14 years later, 29 November 2012 @ Bandung
Left to Right: Jack Frost (Busuk Webzine), Popo Demons Damn, Addy Gembel Forgotten, 14 years later, 29 November 2012 @ Bandung
Read Busuk Webzine interview with Addy Gembel:
Bahasa Indonesian:
http://busukwebzine.blogspot.co.nz/2013/10/interview-interview-kami-bersama-addy.html
English:
http://busukwebzine.blogspot.co.nz/2012/12/interview-busuk-webzine-talks-with-addy.html

Thursday, June 19, 2014

METAL HISTORY: Rotten Corpse (Malang) vocalist picture 1997 - Aryev "Gobell" Budiman

Aryev "Gobel" Budiman sedang beraksi bersama Rotten Corpse di salah satu metalfest Surabaya 1997. Although Bandung has the biggest and best death-metal scene in Indonesia now when you talk to the older metalheads, even in Bandung, they will say how, before Bandung, Malang had the first great scene of Indonesia death-metal and Rotten Corpse was a scene leader. The band was formed in 1995, split-up in 2001 and reformed in 2013. Another legendary old band to reform in 2013 was Injected Sufferage from Bandung.

Sunday, June 1, 2014

METAL HISTORY: Discoresis band (Surabaya death-metal) (1999-2003)

See video for DISCORESIS - "Metallenium Cannibalism" [RIP]
https://www.facebook.com/photo.php?v=10200742206859399&set=vb.1288950650&type=3
@ Surabaya In Flames (September 2003)
MP 3format:
https://www.facebook.com/photo.php?v=2369706603948&set=vb.1288950650&type=3

DISCORESIS [1999-2003] was:
Amroy - vocalist [now Venduzor vocals]
Faizal - guitar
Daniel - drums [now Thirsty Blood / Valerian keyboards]
Abink - bass [now Difteria Radical drums].

Facebook contact: Faizal Fahmi
https://www.facebook.com/faisalities?fref=ts
Dhinnie (left) (Valerian road manager / Allegrea vocalist) and Daniel Natjaard (drummer Discoresis 1999-2003, now Valerian keyboardist)

Daniel Natjaard (drummer, Discoresis 1999-2003), now Valerian keyboardist.. Daniel is seen here promoting the debut EP of the Bangkalan, Madura band Sickles called Series Elite Disaster.

Wednesday, April 11, 2012

METAL HISTORY: Oki dari DEATH VOMIT bercerita tentang TOUR AUSTRALIAN (Yogyakarta brutal death-metal) (Bahasa Indonesian)


Oki Haribowo (DEATH VOMIT), Kieran James (BUSUK WEBZINE) & Corna Irawan (manager DEATH VOMIT), Yogya, 13 Oktober 2011
Oleh Dr Kieran James (University of Southern Queensland)
Wawancara di: Stasiun Yogya, 12 Oktober 2011
Translation oleh Popo (vokalis, DEMONS DAMN)

Kieran James: Oki, maukah kamu melakukan wawancara sekarang karena saya rasa kita harus menunggu disini selama 30 menit untuk membeli tiket kereta?

Oki: Ya, tentu, sobat.

KJ: Apa harapan utamamu untuk tour Death Vomit di Australian?

Oki: kita pergi ke Autralia bukan untuk mencari uang tapi untuk mencari link agar band lain pun bisa pergi ke Australia. Kita punya dua tujuan: untuk main di semua pertunjukan dan untuk melihat Opera House! [Sydney]

KJ: Dan kedua tujuanmu tercapai! Aku melihat photo-mu di Opera House pada Facebook Jason. Kamu tau Metallica punya photo yang diambil ditempat yang sama? Ada pada website mereka, pada pagian gambar 1988-91.

Oki: Dengan Jason Newstead?

KJ: Ya.

KJ: Ceritakan tentang pengalamanmu tentang Tour Australian.

Oki: Di Perth [pertunjukan pertama] crowd yang sangat bagus, di Bar Amplifier, sekitar 300 hingga 400 orang. Pertunjukan yang lain hanya sekitar 30-40. Di Bar Amplifier kita bermain bersama Napalm Death dan Dying Fetus. Kita juga bermain di Hotel Civic [Inglewood, Perth northern suburbs]. Pertunjukan selanjutnya di Geelong lalu di Melbourne.

Oki (DEATH VOMIT) & Ridzky (VENOMED), 12 Okt 11
KJ: Dimana kamu mendapatkan crowd yang sangat bersemangat?

Oki: Buat saya crowd yang paling membuat saya bersemangat ketika kita bermain di Perth, Geelong, dan Brisbane. Semua kota yang kita kunjungi membuat kita sangat bersemangat.

KJ: Band seperti apa saja yang menjadi pembuka kalian?

Oki: Di Perth, Geelong, dan Brisbane kita bermain dengan band death-metal. Di kota yang lainnya [Melbourne dan Sydney] kita bermain dengan band metalcore.

KJ: Ini adalah pertanyaan yang mungkin banyak para metalheads Indonesia ingin mengetahui, tentang: bagaimana fans disana dibandingkan dengan di Indonesia?

Oki: Saya bertemu dengan seseorang disana dan mereka ingin membeli merchandise kami tapi sebelumnya mereka ingin melihat pertunjukan kami. Jika mereka menyukai musik kami maka mereka akan membeli merchandise kami. Saya suka itu, berbeda dengan disini. Disini mereka membeli CD hanya untuk koleksi mereka. Kami bertiga sangat gugup, kami menggunakan nama Jogjakarta Corpse Grinder untuk komunitas seperti Bandung Death Metal Syndicate. Kami mengenal satu sama lain dari kaos. Jika saya menggunakan kaos Suffocation (pada dini hari) tapi saya tidak mendengar orang-orang dari Suffocation akan memberi tau saya untuk tidak memakai kaosnya sebelum saya mendengar Suffocation. Sangat berbeda dengan sekarang; anak-anak muda [sekarang] akan menggunakan kaos band apa saja meskipun mereka tidak pernah mendengar musiknya. Kami menyebut mereka “the posers” abal-abal, yang berarti sama seperti posers.

KJ: Apa kamu bertemu dengan band yang lainnya?

Oki: Ya. Saya bertemu Grotesque dari Perth; mereka orang-orang yang baik, di Sydney Daemonfetalharvest.

KJ: Apakah kamu memperhatikan crowd disana, karena itu sebuah bar, seseorang headbang di depan dan yang lainnya dibelakang hanya berdiri menonton kalian sambil memegang gelas beer mereka?

Oki: Disana orang-orang menunjukan rasa menghargai dengan cara yang berbeda. Di Australia mereka berdiri sambil memegang gelas beer. Kamu tidak bisa merokok di dalam pub, berbeda dengan disini. kami bertiga terkena flu di Melbourne. Ketika kami bermain di Sydney vocalist kami [Sofyan] ingin mengatakan judul dari lagu kami, dia batuk, dan penonton disana tertawa.

KJ: Apakah kamu melihat orang Indonesia di pertunjukan kalian?

Oki: Saya melihat orang Indonesia di kerumunan di Melbourne; orang kaya yang datang ke pertunjukan.

KJ: Bagaimana pertama kali kamu bertemu dengan Jason [Hutagalung dari Xenophobic Records yang mengatur tour]?

Oki: Kami bertemu Jason di Solo pada Rock in Solo ketika kita menjadi band pembuka Psycroptic [Australia], Burgerkill dan band Solo , sekitar tahun 2009.

KJ: Apakah kamu yang meminta kepada Jason atau Jason yang meminta kalian untuk memlakukan tour Australia?

Oki: Jason meminta kami untuk bermain di Australia, Jason yang mengatur semua kota tempat kita melakukan pertunjukan.

KJ: Adakah pengalaman special dalam tour yang ingin kamu bagi kepada kita?

Oki: Saya ingat waktu di Melbourne saat itu lima derajat, disana sangat-sangat dingin, saya tidak pernah merasakan cuaca sedingin itu [KJ: padahal saat itu musim semi bukan musim dingin!] saya berjalan mengenakan kaos untuk membeli Smirnoff tidak mengenakan sepatu, sangat dingin sekali.

KJ: Dimana kamu merasakan hal yang mengejutkan di Australia?

Oki: Semuanya mengejutkan. Kami tidak pernah membayangkan apapun sebelum kami pergi kesana. Ketika kita masih disini kami sempat bertanya-tanya apa yang akan terjadi disana. Apakah crowd disana akan menyukai kita? Apakah mereka senang kepada kami ras asia?

KJ: Band apa saja yang menginspirasi kamu?

Oki: Malevolent Creation, Deicide, lebih banyak dari band-band old-school, Exodus, thrash-metal, dan genre yang lain seperti Janis Joplin yang memainkan musik jazz. Favourite saya Malevolent Creation album Ten Commandments, Retribution, dan Stillborn.

Bad boys running wild: Corna, Oki, Fandi
KJ: Saya punya Retribution, kebanyakan lagu-lagunya slow atau sedang tapi beberapa yang kencang sangat bagus sekali.

KJ: Adakah lagu baru yang ingin kamu bahas?

Oki: Kami punya lagu baru “Dark Ancients” tentang kejayaan kegelapan, dan segala macam tentang Neraka, segala macam pada zaman Nabi seperti Muhammad dan Yesus.

KJ: Bagaimana pendapat kamu tentang scene black-metal di Indonesia?

Oki: semua orang-orang band black-metal disini, agama mereka Islam. Saya tidak mengatakan semua band tapi beberapa dari lirik mereka menentang Umat Kristen, menggelikan bagi saya. Seperti Glen Benton [vocalis Deicide] dia mempunyai pengalaman nyata dengan umat Kristen karena ayahnya seorang Pastur...

KJ: Saya tidak berpikir bahwa ayahnya seorang pastur. Saya rasa orang tuanya hanya membawanya ke sekolah Minggu. Tantenya seorang penyihir dan hal itu yang menuntun dia ke arah sana.

Oki: Ya!

KJ: Jason selalu membahas tentang Funeral Inception; mereka kuat dengan perlawanan terhadap penganut komunitas fundamentalis islam di Jakarta, benar?

Oki: Ya. Opini saya adalah [musikalitas] Funeral Inception seperti Suffocation dari era Effigy of the Forgotten ke Pierced from Within.

[saat itu wawancara berakhir karena nomor antrian saya telah dipanggil jadi saya harus bergegas membeli tiket kereta]

Perbincangan berlanjut saat saya dibonceng oleh Oki menggunakan motornya pada hari yang sama, 12 October 2011, di Yogya:

KJ: Masalah apa yang terjadi ketika memainkan death-metal di Yogja?

Oki: Masalah dengan death-metal di Indo adalah uang. Orang-orang butuh pekerjaan dan hal sulit untuk mengatur antara pekerjaan dan band. Dua tahun yang lalu adalah saat yang sulit saat saya harus meninggalkan pekerjaan untuk melakukan pertunjukan diluar Yogya. Sekarang saya mempunyai toko sandwich waralaba bersama kekasih saya. Saya berhenti bekerja sebelum tour Australia.

KJ: Jadi kamu lulusan Universitas? Apa yang kamu pelajari?

Oki: Ya. Saya belajar managemen. Setelah saya lulus orang tua saya meminta saya untuk mencari pekerjaan. Mereka tidak mengerti death-metal! Budaya yang kolot. Mereka tidak menerima bayi sebelum menikah.

Tuesday, February 28, 2012

METAL HISTORY: DEATH VOMIT gig, Brisbane, Australia, 15 September 2010 (Bahasa Indonesian)


Oki Haribowo (DEVO), Jack Frost (Busuk Webzine), Corna Irawan (DEVO manager), Yogyakarta, 13 Oktober 2011
 Oleh Jack Frost
Rating: 92%

Sofyan & Oki, Yogya, 11 Okt 2011
Yogyakarta-band death-metal Death Vomit membuat sejarah dipertengahan 2010 yang menjadi band pertama dari Yogyakarta dan band metal kedua dari Indonesia (setelah Burgerkill dari Bandung yang melakukan pertunjukan di beberapa kota I Australia. Saya datang pada pertunjukan terakhir tur mereka, di hotel yang bernama Step Inn di kawasan Brisbane entertainment dan nightclub bernama Fortitude Valley atau hanya “the Valley”. Death Vomit adalah Oki Haribowo (bass), Roy Agus (drums) and Sofyan Hadi (guitar/ vocals).

Death Vomit adalah band keempat dalam acara pertunjukan metal malam itu dan mereka merupakan band utama. Step Inn adalah tempat utama pertunjukan metal di kota yang bersub-tropis di Brisbane (populasi 1.5 juta). Tempat itu merupakan pub kelas pekerja tradisional (hotel) yang tidak dimodernisasi dan dimodernisasikan untuk melayani para kelas baru professional muda di Brisbane. Acara pertunjukan di Step Inn diperuntukan kepada crowd death-metal yang mengenakan jeans dan kulit dan kostum death-metal, yang dikenal seluruh dunia, kaos hitam dengan spike dan logo band yang tidak terbaca. Karena ini ada sebuah pub yang pendapatan utamanya adalah dari penjualan beer. Seperti malam itu ketika saya masuk ada sekelompok anak muda yang memandang kearah saya, mengenakan kaos Cannibal Corpse, meminta untuk membuat foto ID card. Sudah menjadi hal yang biasa dan refleks lalu saya memperlihatkan ID card kepada security. Semua orang tertawa sangat kencang seperti saya berumur 43 tahun dengan rambut yang mulai berubah berwarna abu! Lagi pula anak-anak muda di Australia tidak mengenakan kaos Obituary (disayangkan). Karena itu tempat yang berlisensi menjual munuman keras hanya mereka yang berusia diatas 18 yang dapat masuk kesana jadi personil Death Vomit akan mendapatkan penonton yang sangat berbeda dengan tipikal penonton acara-acara di Indonesia dimana hampir penggemarnya adalah para remaja (contohnya saat pertunjukan Bleeding Corpse di Cibinong pada 8 Oktober 2011).

Death Vomit mulai bermain sekitar jam 8 malam. Crowd disana sekitar 70 atau 80 orang, dari segala usia mulai 18 keatas hingga 40an atau 50an. crowd nya sangat berbeda dengan crowd di Indonesia seperti heavy-metal di barat yang memiliki sejarah lebih tua 35 atau 40 tahun dan usia fans paling tua sekarang sekitar 40an dan 50an.  Ada sebaris metalheads fanatik berjumlah tiga orang headbang di depan mereka, seperti yang kamu lihat di Indonesia, tapi lalu ada lagi beberapa meter pada space yang kosong dan kelompok metalhead yang kedua ini berdiri di belakang, beer di tangan, dan hanya menyaksikan pertunjukan. Group ini sedikit mempunyai kekhawatiran kepada Death Vomit mereka masih tampak seperti batu tapi sebenarnya mereka takut beer yang disajikan dalam gelas akan pecah atau jatuh ke lantai!
Oki, Jack (BUSUK), Corna, Fandi, 13 Okt 11

Saya bisa melihat Death Vomit gugup; mereka mulai mengeset cukup lama. Yang kedua mereka mulai dengan kebrilianan mereka seperti biasa. Para personil memukau crowd oleh agresif mereka dan sangat kompak dan pertunjukan profesional. Band ini melakukan sesuatu yang langka seperti Sofyan menggunakan vokal growl death-metal tapi diikuti oleh suara Shrieks tinggi black-metal oleh Oki. Satu-satunya cara untuk meningkatkan DEVO mungkin Sofyan lebih banyak bermain solo gitar (atau tambah Ralph Santolla sebagai personil keempat!!) setelah pertunjukan saya berbicara dengan tiga atau empat orang fans metal Australia yang sangat terkesan oleh band. Duta metal dari Yogyakarta telah melewati ujian besar! Agung mantan vokalis, yang meninggal umur 22, akan sangat bangga terhadap band ini. Australia menunggu band yang lain dari Yogyakarta yang berasal dari jalanan dan kampus perguruan tinggi!

[Translation oleh Popo, vokalis DEMONS DAMN - terimakasih Popo]

Tuesday, January 31, 2012

METAL HISTORY: Oki DEATH VOMIT & Man JASAD mengenang Agung (RIP)

Oki Haribowo DEATH VOMIT, Kieran James, Corna Irawan (DEATH VOMIT manager), Yogyakarta, 13 Oct 2011
Wawancara bersama Oki (DEATH VOMIT), toko burger, Yogya, 13 October 2011

Oleh Dr Kieran James, University of Southern Queensland

Komentar Extra oleh: Mr Corna Irawan (manager band Death Vomit)

Pendahuluan: Agung adalah vokalis pertama band DEATH VOMIT Yogyakarta brutal death-metal. Agung meninggal, seperti Sid Vicious dari Sex Pistols, karena obat-obatan dalam usia 22. dalam artikel ini saya melakukan wawancara dengan dua teman baik Agung, Oki dari DEATH VOMIT dan Man dari JASAD. Seperti yang oki katakan, Agung adalah seorang death-metal yang hidup dalam kehidupan death-metal. Dia menyatukan scenes punk, metal, dan reggae di Yogya. Kita berharap suatu hari nanti akan ada patung untuk Agung di Yogya seperti patung Bon Scott dari AC/DC yang terletak di tepi laut Fremantle di Perth, Australia. Jika Agung mengetahui DEATH VOMIT telah melakukan tour Australian dia akan sangat bangga akan hal ini.

Kieran James: Oki, bisakah kamu ceritakan kepada saya, apa yang kamu ingat tentang Agung?

Oki Haribowo DEATH VOMIT: Agung mempunyai sikap yang baik dan sikap yang buruk seperti [yang lainnya] orang-orang metal. Dia adalah vokalis yang bagus, teman yang baik untuk saya, saya sangat bersedih saat dia meninggal.

KJ: pernahkah kamu memikirkan dia ketika kamu bermain bersama band?

Oki: tidak, tapi sesekali ketika saya sendirian dikamar dan melihat fotonya kadang saya merindukannya. Hampir setiap hari dia mendengarkan Death Vomit bandnya sendiri. Dia sangat menggemari vokalis dari Dismember [Sweden] [Matti Kärki].

KJ: apakah suaranya berbeda dengan suara Sofyan?

Oki: suaranya berbeda dengan suara Sofyan, mungkin [suara Agung] seperti album pertama Suffocation [album] Effigy of the Forgotten. Dia selalu menceritakan pengalamannya kedalam sebuah lirik. Lirik-lirik Death Vomit dulu bercerita tentang pengalaman kehidupannya dia.

KJ: apakah orang-orang terkejut oleh kematiannya?

Oki: semua orang terkejut ketika dia meninggal. Tidak terlihat bahwa dia akan meninggal. Dia menggunakan obat-obatan tetapi dia terlihat sangat sehat. Setiap hari dia selalu membuat candaan. Ketika kita berjalan-jalan dan ketika dia ada disana keadaan selalu menyenangkan bersama Agung. Selalu ada batasan antara Punk dan Metal, kita tidak mengetahui satu sama lain. karena Agung komunitas punk dan metal bisa bekerja sama. Dia adalah teman dari komunitas metal dan teman dari komunitas punk.

KJ: jadi dia akan menyukai jaket yang saya pakai dengan emblem band punk dan metal [tertawa]?

Oki: ya! Orang dari berbagai jenis musik datang ke pemakaman, orang metal, orang punk,dan orang reggae. Semua orang menyayanginya. bahkan Man, dia adalah death-metal dari Bandung, tapi dia adalah sahabat Agung. Man mendatangi kuburan Agung ketika Jasad bermain di Yogya.

KJ: apa yang kamu rasakan ketika harus mengambil tempatnya?

Oki: tidak pernah terpikirkan sebelumnya [tertawa] tapi mungkin saya akan melakukan yang terbaik untuk band karena band milik Agung juga. Jika saya hanya bersenang-senang [dalam band] seperti saya mempunyai dosa, kamu tau maksud saya? Kita menyelesaikan SMA dan saya tau jika dia tidak mau melanjutkan ke perguruan tinggi atau bekerja. Dia ingin total dalam death-metal. Ketika kita mengeluarkan The Prophecy, kita memainkan lagu “Gelap” tanpa vocal dan kita membayangkan Agung sedang bernyanyi. Kita menyiapkan mik di depan kita dan kita merasakan Agung ada disana. Agung memanggil saya “parasit” karena saya berganti-ganti band dari satu ke yang lain. Saya ingat ketika saya bergabung bersama Death Vomit Agung mengatakan kata-kata itu jadi saya membuat komitmen untuk diri saya sendiri bahwa saya tidak akan berpindah band lagi.

KJ: apakah ada kampanye anti obat-obatan setelah Agung meninggal?

Oki: mungkin tidak 100% tapi hanya kampanye kecil. Ketika Agung meninggal Death vomit membuat stiker kecil. Saya lupa kata-katanya tapi intinya Death Vomit menentang obat-obatan. Seperti dalam CD metal lama dimana ada peringatan bahwa alcohol dan obat-obatan bisa menghancurkan hidupmu. Hampir seperti itu bedanya kami buat stiker. Intinya adalah: “obat-obatan sangat berbahaya untuk nyawamu”.

Corna Irawan (manager band dari Death Vomit): stiker: “hentikan kegilaan”.

Oki: “...obat-obatan sangat berbahaya untuk nyawamu!”

Oki: aku melihat karakter yang sangat kuat dari Agung dalam death-metal karena gaya hidupnya; dia adalah karakter yang kuat seorang death-metal.

KJ: terima kasih banyak untuk berbagi banyak hal bersama saya. Saya rasa penggemar akan sangat menyukai hal-hal yang kamu ceritakan kepada saya. Tentu saja wawancara ini akan masuk dalam buku saya.

Oki: jangan khawatir, kita harus menghabiskan burger kita sebelum kita pergi ke studio rekaman Avila malam ini untuk bertemu band-band lain!

Man (JASAD) mengenang Agung:

Wawancara oleh Kieran James di “The Common Room”, Bandung, 3 pagi, 11 October 2011:

Kieran James: Man, jika kamu punya beberapa menit bisakah kamu menceritakan tentang Agung dari Death Vomit?

Man JASAD vokalis: banyak teman saya di Yogyakarta meninggal karena obat-obatan, heroin. Ketika saya melihat pertunjukan Death Vomit [hari ini] saya melihat Agung vokalisnya dahulu. Saya lebih beruntung dari dia karena saya masih bertahan hingga sekarang. Saya hidup bersama keluarga normal bersama ibu dan ayah, tidak seperti agung yang semenjak lahir hingga meninggalnya dia tidak pernah bertemu dengan orang tuanya. Saya sudah memperingatkan agar tidak menggunakan obat-obatan tapi dia terus menerus menggunakannya, dia meninggal sangat muda,berumur 22…

KJ: umur yang sama seperti Sid Vicious...

Man: banyak dari teman saya yang telah menjadi korban dari obat-obatan dan heroin jadi saya dedikasikan sebagian hidup saya untuk menolong pengguna obat-obatan dan orang yang hidup dengan AIDS. Jika saya bertemu dengan bayi yang hidup dengan HIV mereka [hanya] tidak beruntung, lahir dari ibu yang hidup dengan HIV.

[perbincangan kita dalam topic ini berakhir disini. Malam itu sangat sibuk di "The Common Room" di Bandung dan Man harus berbincang dengan orang lain]

[Translation oleh Popo DEMONS DAMN]